Kosong
Benar - benar kosong
Tak tahu harus mengerjakan apa
Kosong
Benar - benar kosong
Ah, kosong
Terasa hampa
Kosong
Hanya bisa diam dan mematung
Kosong
Benar - benar kosong
Tak tahu harus mengerjakan apa
Kosong
Benar - benar kosong
Ah, kosong
Terasa hampa
Kosong
Hanya bisa diam dan mematung

Kita tak pernah berpikir akan bagaimana jalan yang akan kita tempuh kedepannya, apakah jalan yang ditempuh akan mudah atau tidak, kita hanya bisa berdo'a dan berusaha yang terbaik, berharap semua ingin dan cita terwujud sesuai dengan harapan. Kita tlah menyelusuri jalan sesuai dengan rutenya, mematuhi semua rambu - rambu yang diberikan, tapi mengapa... Mengapa?
Kucoba tepis semua rinduku
Ada
rasa yang terus membelenggu hati, tak dapat terdefinisi. Gelisah tak menentu. Tak
dapat diurai. Sebuah resah yang tak
berujung. Perasaan tak menentu yang membuatku tak nyaman. Terus bertanya pada
hati. Sampai kapan terus bersemayam. Sesekali terasa sesak. Getar tak bernada
tapi terus mengalun pasti mengiringi irama hati. Apakah itu rindu ? entahlah,
tak dapat ku jawab secara pasti. Tapi jika itu rindu, kepada siapa dia merindu?
Rindu yang berbentuk sepihak. Rindu niskala. Dan pada akhirnya rinduku akan
terbang melayang bebas ke angkasa berwujud do’a yang mengetuk – ngetuk pintu
langit berharap Allah mau mencabut rasa rindu ini atau mengizinkanku bertemu
kepada pemilik rindu ini.
So,
luruskan niat hanya karena Allah, in shaa Allah akan Allah permudah segala
urusan kita, jangan karena sebuah cemooh satu atau dua orang mengurungkan niat
untuk berhijab yang sudah wajib untuk kita lakukan, terkadang orang terdekat
memang bukan orang yang tepat untuk
penyemangat diri, tapi begitu mudahkan
semangat itu hilang? Begitu mudahkan niat itu hilang? Ah, belum berperang tapi
sudah dengan mudahnya menyerah, itu bukan hamba Allah yang tangguh. Jadikan
cemooh itu jadi cabuk penyemangat bahwa diri ini tak seperti yang mereka pikir,
buktikan kepada mereka dengan prestasi – prestasi kita. Dan orang – orang itu
dengan sendirinya akan menerima dan mendukung kita tanpa harus kita pinta. So,
jangan mudah menyerah hanya karena kerikil – kerikil kecil karena diluar sana
masih banyak kerikil – kerikil kecil yang menghalangi langkah besar kita,
perjuangan masih panjang, dan perjuangan baru akan dimulai, oke… !!!
bersikaplah dengan bijak dan pahamilah mereka itu pun merupakan perjuangan
untuk kita karena harus melawan ego kita sendiri tapi itu juga sebuah
kenikmatan yang harus dinikmati karena akan berbuah pahala jika kita bijak
dalam menyikapi.
Suatu perjuangan yang berat untuk melalui hari ini, tapi karena ada kalian yang
menemaniku, memberiku suatu kekuatan dan perasaan nyaman yang tak terkira
hingga ku kembali damai. Hei senja, karena hujan belum berlalu makanya kau tak
menunjukkan pesonamu pada ku kali ini. Ya tak apalah, kali ini ku maafkan. Usai
sudah tugasku hari ini walau masih ada sedikit masalah yang tak cukup
berpengaruh. Aku masih merasakan hadirmu melalui jemari – jemariku, masih
menemaniku menikmati panorama bumi yang tlah kau guyur. Ah masih saja ada yang
mencelamu, ingin rasanya ku maki orang itu tapi ku harus menahan diri saat ini.
Coba saja dia merenung bersyukur
menikmati akan hadirmu. Mensyukuri nikmat yang tlah Allah turunkan. Hujan dan
senja yang menemaniku hari ini, terima kasih karena tlah menghiburku untuk hari
yang cukup melelahkan, semoga suatu hari nanti kita dapat bercengkrama riang
kembali. See you…